Kamis, 2 Juli 2009 | 10:52 WIB
LAPORAN WARTAWAN TRIBUN LAMPUNG, HERIBERTUS SULIS SETYANTO
BANDAR LAMPUNG, TRIBUN - Kondisi Hariska sangat mengenaskan. Gadis berusia 13 tahun itu terus meronta meski kedua tangan dan kakinya terikat di dipan. Ya, Hariska dipasung oleh orangtuanya di dalam sebuah kamar rumah kontrakan di Margototo, Metro Kibang, Lampung Timur. Sutrisno (55) dan Suryaningsih (49), kedua orangtuanya, hanya bisa pasrah melihat kondisi anak keempatnya tersebut.
Mereka memang tidak bisa disalahkan. Sebab, Hariska mempunyai kebiasaan melukai dirinya sendiri. Itu sudah berlangsung sejak gadis itu berusia enam bulan. Kepada Tribun Lampung, Suryaningsih mengatakan awalnya ia hanya tahu Hariska lebih sering bergerak dan tidak bisa diam ketika masih bayi bila dibandingkan ketiga kakaknya.
Perempuan yang bekerja sehari-hari sebagai buruh tani ini merasa bingung dengan sakit yang diderita anaknya. Suryaningsih mengaku tak pernah mengonsultasikan sakit yang diderita Hariska ke puskesmas, dokter, atau pun rumah sakit. Penyebab utamanya adalah biaya.
"Selama ini, kami hanya membawa Hariska ke dukun atau orang pintar," jelas Suryaningsih, Rabu (1/7).
Meski ada tetangganya yang mengatakan bahwa Hariska bisa berobat gratis dengan menggunakan dana jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas), Suryaningsih mengaku tidak tahu cara mengurusnya.
"Kami selalu berpindah tempat tinggal dengan mengontrak rumah. Kalau harus mengurus surat-surat, kami tidak tahu ke mana mengurusnya," ujar Suryaningsih.
Rumah Sakit Jiwa Daerah Lampung (RSJD) dr Liliek Sumardijaningsih mengemukakan Hariska kemungkinan menderita penyakit kejiwaan disertai sakit fisik. "Kami tidak bisa menyimpulkan nama penyakitnya sebelum mengecek langsung. Tapi, dari gejalanya, ada kemungkinan ia mengalami retardasi mental disertai psikotik," ujar Liliek saat dikonfirmasi Rabu (1/7).
Dia menjelaskan, retardasi mental psikotik adalah gangguan tingkat intelegensia (IQ) yang tergolong rendah hingga menimbulkan kemunduran mental dan gangguan kejiwaan.
Penyebabnya, lanjut Liliek, bisa bermacam-macam. Di antaranya, penderita pernah mengalami sakit panas tinggi dan kejang-kejang saat masih kecil. Karena pengobatan terhadap penderita tidak tuntas, hal tersebut menyisakan bekas seperti goresan di bagian otak.
Kemungkinan lain adalah sikap hiperaktif Hariska yang tidak pernah dikonsultasikan dan ditangani secara medis. Kebiasaan hiperaktif tersebut, ungkapnya, menimbulkan luka fisik yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Namun, kata dia, penderita gangguan jiwa tetap mempunyai kemungkinan sembuh. Rasionya 30 persen sembuh total, 30 persen sembuh dengan kewajiban minum obat seumur hidup tapi tetap bisa beraktivitas, dan 30 persen sembuh dengan kemungkinan kambuh. (*)